-ke Sawah..!

21 January 2010
Entah kenapa hati saya bergejolak atas impian-impian yang pernah terucap semasa kecil dulu...!. Saya memang tipe pemimpi yang (hampir) tak mau tahu bagaimana meraihnya. Bakal susah, penuh tantangan, mengerikan, dll saya tak peduli. Jika sudah kukatakan impianku, aku akan berjuang... Entah itu tercapai, tercapai dalam bentuk lain, tercapai dengan membuat orang lain meraihnya atau malah tidak tercapai sama sekali, yang jelas saya akan berjuang...!

Ini, masih tentang cerita waktu pulang kampung... (plis notify, berarti saya sudah tidak di kampung lagi) hehehe...!

Ke sawah...
Iya..
Saya 2 kali ikut orang tua saya ke sawah untuk memupuk tanaman padi yang sudah mulai tumbuh. Ya sekedar nostalgia, kehidupanku waktu kecil dulu memang seperti ini. Kesawah..!
Dan kali ini, untuk memupuk padi yang beberapa petak itu, kami bertiga harus bekerjasama, Ibu saya memupuk padinya, kakak saya menutup pematang yang terbuka supaya pupuknya tidak terbawa aliran air, dan saya mengantarkan stok pupuk kepada ibu saya...!

Berhubung santai-santai saja, sewaktu ibu saya memupuk saya punya waktu sedikit untuk memoto..!

Bawa kamera? Iya...









Dulu, tatkala saya masih kecil, entah kelas 3 atau 2 SD, saya masih ingat, waktu itu saya baru-baru tahu, kalo yang mengemudikan pesawat itu namanya PILOT. Saya ikut ibu saya ke sawah. Waktu itu menanam padi. Kakak saya masih sekolah, saya sudah pulang, dan adek saya masih belum waktunya ikut ke sawah. Belum layak. hahahah. Jadi cuma saya berdua dengan Ibu saya. Dan entah ada penerbangan dari mana kemana, lewatlah pesawat dari langit (heee?), dan mensugesti saya bertanya sama ibu saya:

"Yang bawa pesawat itu Pilot ya Mak..?" lebih mirip pernyataan..
"Iya.." sahut ibu saya sambil tetap menanam padi tak henti-hentinya. Entah dari mana kecepatan tangan seperti itu... "Nanti kalo kamu sekolah yang rajin, trus bsia jadi Pilot, mama pasti banggaaa sekali, nanti kamu dadah-dadah mama dari sana, dan saya dadah-dadah kamu dari sini sambil berkata..'Ah, anakku sudah terbang...!' dan suatu saat kamu bawalah mama terbang...!" lanjutnya.. (sesuatu yang sampai sekarang selalu membuat saya tersenyum jika mengingatnya...!)
Saya terdiam sejenak, "Aha.. jadi pilot...!" seru saya dalam hati..!
Itulah awalnya saya punya cita-cita untuk jadi Pilot...

Well, jujur sekarang saya bukan seorang Pilot yang menerbangkan pesawat, tapi seperti yang saya bilang tadi, sekali saya bermimpi untuk jadi pilot saya akan berjuang mewujudkannya. Mungkin bukan saya yang jadi Pilot, mungkin anak saya, atau ponakan saya yang nanti saya sekolahkan, atau dalam hal lain...

Saya tak berhak membatasi rancangan dan rencana-Nya dalam hidup saya, juga dalam impian saya...!

Ah Ibu...
Saat ibu saya sibuk memupuk padi itu, saat kakak saya mondar-mandir menutup aliran air, saya memandangi Ibu saya,
Banyak memang derita yang ditanggungnya demi kami,
Kesawah tak peduli hujan, tak peduli terik tetap kerja. Dari pagi sampai sore, bekal di bawa kesawah. Beda sama saya anaknya. heheheh
Pernah waktu mencangkul di sawah, hujan turun deras. Seperti biasa Ibu saya memakai plastik, melindungi tubuhnya dari terpaan hujan langsung. Dan kami juga diperlengkapi masing-masing satu lembar plastik. Diikatkan ke kepala dan dililitkan kebadan tanpa menghalangi mobilitas tangan untuk mencangkul.

Saya sebagai laki-laki kecil, waktu itu sekitar kelas 4 SD, dengan penuh semangat pamer kekuatan dan keperkasaan mencangkul. Sampai sampai lumpur sawah itu muncrat kesana kemari terkena cangkul. Muncrat ke ibu, muncrat ke saya, muncrat ke kakak-kakak saya. Tak peduli, toh sudah basah juga. Sekali basah, kuyup saja sekalian dan penuh lumpur saja biar lengkap. Namun walaupun semangat terus membara mencangkul padi, tapi toh butuh energi, toh bisa capek juga. Nah disaat capek begini, saya pasti berdiri ditengah sawah itu. Masalahnya, kalo berhenti mencangkul dan tidak bergerak disaat terpaan hujan deras, itu artinya jadi malas bergerak. Badan mulai menggigil, gemetaran...

"Cangkul lagi yang kuat, biar gak kedinginan kau..!" seru ibu keras-keras supaya terdengar oleh saya. Kan hujan Kawan, dan plastik yang saya pakai sedikit mempengaruhi pendengaran karena menutup telinga. Ibu saya berseru sambil tetap mencangkul. Entah dari mana tenaga seperti itu.
Saya tetap terdiam, bukan mematung tapi tetap gemetaran.
"Ayoo... macam mananya, laki-laki kau tak ada tenagamu, masa kalah sama ibu..?" pemacu semangat versi baru. entah kapan ibu saya menemukannya, tapi toh saya tetep berdiri gemetaran...
lama-lama ibu saya bosan juga...
"Ya sudah, cuci bajumu, pulang ke rumah, jangan lupa masak nasi, sayur dan nanti ikan asin itu goreng ya, sambal juga...!" kata-kata seperti ini sungguh manjur memperlancar aliran darah saya. Sayapun beranjak, menuju tempat mencuci baju, mandi dan berganti pakaian. Melangkah pulang...
"Dadah mama.. yang semangat ya Mak...!"
"Hyeeeee, kau ini kalo disuruh pulang, langsung ambil langkah seribu, kalo disuruh berangkat ke sawah pake langkah pengantin...!" heheheheheh

Tapi, kehidupan keluarga petani miskin seperti itulah yang membentuk saya hingga jadi seorang saya. Saya yang benar-benar adalah saya itu ya seperti itu...!

Maka jika anda merasa bertemu dengan saya nanti, pastikan dulu dengan mencium aroma tubuh saya, jika anda mencium bau hujan, bau lumpur, bau tanah, bau air sungai, bau ikan asin, bau sambel tomat... itu pasti saya yang sebenarnya..!

Tak perlu dekat-dekat mencium aroma tubuh saya, walaupun saya di Maumere, NTT.. aroma tubuh bau tanah, hujan, lumpur dan lain-lain itu tetap bisa tercium kok, dari Medan sekalipun...!

Sebagaimana aroma tanah, air, lumpur, bahkan pupuk kandang itu melekat di tubuh ini, seperti itu juga melekatnya mimpi-mimpi masa kecil saya di jiwa ini...! Karena saya tetap berjuang untuk mimpi-mimpi itu...!



*sedang merenungi kembali jalan hidup yang saya tempuh..!

19 comments:

DESFIRAWITA said...

wew,
cerita yang bagus.
setiap orang mempunyai mimpi kawan dan usaha untuk mendapatkannya memang tidak mudah.

aku juga sama seperti mu,
aku adalah penulis awam yang terobsesi pada mimpi
nggak peduli orang bilang apa tentang ku, yang pasti aku adalah aku, aku yang sebenarnya

:P

Laston M Nainggolan said...

mari bermimpi dengan mata open..

saya jadi teringan semasa SD-SMU hari hari ke ladang dan swah.. sekarang sudah anak rantau.. dan ingin kembali...

maiank said...

mmmm sweeet bangeeeeeet...


berusahalah dan kuatkanlah dengan doa...
untuk mimpi...


aku suka fotonya&suka ceritanya....
hihihi

Henny Y.Wijaya said...

selalu..bisa meng-capture pemandangan-pemandangan bagus ^^

mas doyok said...

saya juga hobi ke sawah
dulu mas
kadang kadang sekarang masioh kalo pas pengen saja

Pitshu said...

jadi inget, dulu pas ke rumah na Bibi (dikarawang panggil pembantu dengan nama Bibi, klo cowo panggilannya Bapak). klo nyokap mau pergi dan kita di titipin di rumah na bibi, kesana pasti lewatin sawah, rasanya seneng bangetttt! hahahaha.. sayang jalan na sekrang udah ditutup, sawah na pun udah enggak ada~ *nice picture*

Bandit Pangaratto™ said...

Desfi: selamat berjuang mewujudkan mimpi ya bro... semangat...

Bang laston; sama.. saya juga masih merantau, hanya saja baru pulang kampung... heheheh


maiank: heheh.. makasih Kawan...


Henny: ^^


Mas Doyok: hehehe.. saya mah bukan sekedar hobby, itu sumber penghidupan.. :D


Pitshu: ke kampung saya sajalah kalo begitu... hahahahah

Si_Isna said...

waktu masih kecil saya pernah dibawa nenek saya ke sawah...
tapi setelah tragedi penempelan banyak cacing tanah di kaki saya, saya ga pernah lagi mau deket2 sawah... geli...!!! :P

Sari said...

Aku baru lihat yang namanya sawah waktu umur udah 7 tahun. Aku besar di daerah yang ga ada sawahnya karena tanah yang gersang. Kamu lebih beruntung.

O iyaa..aku suka bagian akhir ceritamu yang di item2in a.k.a di bold, megang banget hehehe :P

Nice closing, anyway...
Kerennn...

-Gek- said...

Aron ga bawa kamera?
Ga mungkin...

Doh! AKu makin naksir aja sama templatemu, SOb!
Ayo ke sawah deket desaku.. :)

Gogo Caroselle said...

ahahah abndit mamanya humoris yah....
sawahmu bgs yah dit,
langitnya ciamik!

Otak Cutbray said...

Nice story dit...

Gw pernah berharap bisa merasakan kehidupan yang seperti itu, ditengah hiruk pikuk kehidupan jakarta yang menuntut masyarakatnya menjadi robot-robot tak berperikemanusiaan dengan pola individual yang sangat tinggi kehidupan seperti itu menjadi mimpi penghibur bagi kami...

lucky you buddy... :)

Philida Thea Noorvika Herry said...

suka sama postingan yang ini, btw salam kenal ya Bandit :)
..

Bandit Pangaratto™ said...

Si-Isna; kami malah sering terbantu oleh cacing tanah itu.. menggemburkan tanah... heheheh


Sari: iya.. saya bangga mengenalkan kampung saya padamu.. hweee.. hehehe


-Gek-: ayo ayo... heheheh, moto tentunya.. pasti keren.. heheheh


Gogo: mungkin humoris itu turun berlebihan kepada saya... hahahaha... langit hari itu memang mendung.. apik langitnya...


Cutbray: heheheh... iya, makanya kembali kekampung kali ini saya sempet"in ke sawah... hehehe


Philida: thanxx.. salam kenal juga... hehehe

Osi said...

Alamaaaaaakkkk....hijau nian pemandangannya....tak bisa ku bayangkan aroma udara di sana...pasti sejuk sekali....

SeNjA said...

perjalanan hidup yg luar biasa,aku membacanya tanpa ingin sedetik pun terlewat.
pemandangannya indah bangettt....tapi awas kameranya jatuh ke lumpur sobat he,...^_*

Bandit Pangaratto™ said...

Osi: sejukksss dan dwwiwiwiwiinnginn.. heheh


Senja: kameranya sudah diamankan kok.. heheeh... Thanx yaa...

Anonymous said...

tok...
baca cerita2mu,mengingatkanku pada masa kecilku juga..
semua kenangan2 itu kembali membayang..
bersama papa,mama, adek2di ladang di masa itu..
sebelum rencanaNYA bekerja buat kami..

Bandit Pangaratto™ said...

Anonymous: and i wish i know who you are Dear... siapa dirimu kawan..?"