ke Kebun - Sekolah itu penting...!

22 January 2010
Baca saja selengkapnya...! Heheheh
"....dan tanpa sekolah, cita-cita saya (dipostingan sebelumnya), bakal susah terwujud...!"

Yoppp...
Selain ke sawah, kami juga ke kebun, kebetulan punya beberapa batang tanaman kopi yang sudah harus dipetik. Jarak kebun dari rumah itu sekitar 3 km dan ditempuh dengan berjalan kaki. Dulu waktu kecil, itu awal-awal ibu saya menanam kopi, kami anak-anaknya jadi "korban" nya. Gimana tidak, dengan iming-iming nanti dibelikan Mie Gomak di pasar pada hari Jumat, kami seolah-olah tersihir untuk bersemangat supaya kopi ini tumbuh subur. Mulai dari mencangkuli tanah, menanami bibit kopi, memupuk, menimbuni sekitarnya dengan semak-semak dan kompos bahkan menimbuni komposnya dengan tanah liat.

Kami 5 bersaudara. Adek saya yang paling kecil yang belum bersekolah itu sudah duluan ke kebun bersama orang tua, bahkan sebelum kami berangkat sekolah. Sepulang sekolah, aku, adekku nomor 4, dan kedua kakakku akan berangkat bersama ke kebun. Menempuh perjalanan 3 km itu. Sering orang-orang di kampung yang melihat bakal memberi komentar.. "Nima,,, nima .. nunga borhat pasukan Malau...!" (Tuh, tuh, dah berangkat pasukan Malau..!") Heheheheh. Kedua kakak saya bakal menjunjung keranjang berisi tanah subur bekas menimbunkan kototran kerbau, membusukkan tanaman-tanaman semacam perdu biar menjadi kompos dan lain-lain, kami menamainya "PANARUI". Saya juga menjunjungnya, cuma pake karung, berisi setengah. Waktu itu keranjang (hirang) kami cuma dua. Dan adek saya memikul cangkul.

Waktu itu tentu saja jiwa anak-anak saya yang suka bermain-main itu berontak. Bandal nian saya ya..!. Iming-iming seperti Mie Gomak, dibelikan sandal yang baru, sepatu baru itu kadang tak berhasil membuat saya. Soalnya kadang Mie Gomaknya gak jadi di beli, entah karena yang jualan libur atau ibu saya yang lupa. Sepatu juga gak bakal ganti kalo belum rusak total.. Hahahah... Ya ya ya, saya dulu itu laki-laki bandal kelas teri...

Tapi walaupun bandal, saya masih ingat saya "pintar" mengambil hati ibu saya. Pernah waktu itu, uang sekolah saya sudah menunggak 3 bulan, dan sebagai seorang pria yang tercipta hampir tampan (hubungannya apa???), dengan cara saya sendiri saya pasti bisa membujuk ibu saya.

Jika ke kebun itu, entah mencangkul, menyiangi hama pasti ada waktu istirahatnyalah. Setidaknya mengopi atau makan siang...! Dan di saat bakal mau makan siang itu, saya pasti berkeliaran ke hutan belantara di sebelah kebun. Hutan itu di tumbuhi pohon-pohon tusam, dan pohon-pohon kayu bakar lainnya. Kabar gembiranya, pohon ini akan dijalari oleh markisa. iya, markisa... Saya memanjat pohon tusam itu, meraih tali-temali markisa, meraihnya dan mengambil buahnya. Markisa. Penuh perjuangan memanjatnya tinggi-tinggi. Sama seperti perjuangan markisa itu sendiri merambati pohon tusam. Dan markisa-markisa terbaik yang saya dapatkan akan saya berikan dulu ke ibu saya.

"Mak, ni ada markisa.. besar, merahh..!" hehehe, senyum penuh daya tarik yang gagal karena waktu itu gigi saya gak beraturan sama sekali. Hahahaah...
"Mana...!" terima Ibu saya seolah-olah tak acuh..! Dan menikmatinya.
Setelah dinikmati..
"Enak Mak..?" program pengambilan hati ibu di mulai...
"Mmm...!"
"Heheheh, Mak...!?"
"Apa...?"
"Kata guruku uang sekolahku sudah harus dibayar, sudah tiga bulan ditunggak..!"
Ibu saya terdiam sejenak, berhenti memakan markisanya, seolah-olah berpikir...!
"Nah, truss..?" melanjutkan memakan markisa...
"Kan, itu kita sudah metik kopi banyak.. sudah cukup itu Mak..!"
"Lha, emang cuma uang sekolahmu yang perlu? Gak perlu lagi makan ikan? Beli garam...?"
Saya bakal mutung persi manis, bukan versi pedas...
Saya bakal beralih kebelakang Ibu saya...
Memijiti pundaknya....
"Akhh... gak usah pijit... Karena adanya maumu...!" gertak ibu saya tapi tetap merelakan pundaknya dipijiti.
"Heheheheh...!"

Rata-rata kami memetik kopi itu hari Rabu, malamnya di giling untuk memisahkan biji kopinya dari kulitnya, besok paginya hari kamis menjemurnya hingga kering. Dan besoknya, hari Jumat menjualnya ke pasar, ke pasar Doloksanggul...!

Hari sabtu pagi, ibu saya bakal menyangoni saya sekian rupiah, pas untuk membayar uang sekolah saya. Hehehe
"Mak.. berangkat ya Mak...!" seru saya penuh semangat...
"Iya, hati-hati...!"
Saya berangkat dengan langkah yang girang, dan tentunya di tengah jalan saya bakal terhenti dan kembali kerumah. Tas berisi buku-buku pelajran saya hari ini ketinggalan...!

"Kok balik lagi...?" berpapasan dengan ibu saya yang mau kesawah...
"Heheheh.. tasku ketinggalan Mak..!"
"Makanya jangan terlalu bersemangat Nak...!"



Kebun kopi...



Biji Kopi...!


Harimonting...! (Silahkan googling dengan kata kunci Arimonting, atau Harimonting) Ini enak kawan...! Manis...!


Kedua kakak saya bisa lulus sekolah sampai SMA di Doloksanggul, Adek saya juga dan sekarang adek saya yang paling bungsu yang masih SMP itu bersekolah tak lepas dari kerja keras Ibu saya merawat kebun kopi dan sawah. Termasuk saya bisa lulus SD di kampung juga. Karena mulai SMP saya sudah bersekolah di Surabaya, di sekolahkan oleh Inangtua (Budhe) saya.

Kebun kopi memang tak seberapa,
Sawah memang tidak banyak,
Kerja-keras orangtua saya merawatnya juga terbatas,
Tapi saat orangtua saya mengerjakannya
Dengan semangat yang hampir tanpa batas itu,
Demi anak-anaknya, demi masa depan anak-anaknya


Dan Puji Syukur bagi Yang Maha Tak Terbatas,
Atas segala keterbatasan manusia itu.
DIA menyatakan Ketidakterbatasan-Nya...


Terimakasih,
Karena Orangtua saya tidak menyerah pada miskinnya hidup...
Tidak menyerah dan mengorbankan sekolah kami...
Walaupun saya cuma sampai SD di sekolahkan orangtua saya,
Tapi itu bahkan sudah lebih dari cukup,
Jangan dulu saya bicara tentang hal-hal besar yang dibuat ibu saya bagi saya..
Hal-hal kecil saja..
Rela makan seadanya,
Demi uang sekolah..
Demi uang seragam..
Demi ini itu....

Mak,
Ini, saya pulang kampung...
Saya membawa "markisa" terbaik yang saya dapat di perantauan..!
Markisa paling merah..
Markisa yang manis...
Markisa yang enak...!



*maafkeun saya Kawan, saking sibuknya kemaren di kebun, saya tak sempat mencari markisa dan memotonya, terlebih karena kata ibu saya sudah jarang markisa, karena pucuk markisa itu juga sudah laku dijual jadi sayur...!



25 comments:

Sari said...

Aku liat harimonting itu sambil ngecess..kayaknya seger... sluurrppp :D

zee said...

Mak.
Keren kali foto2nya...
Itu biji kopinya jelas begitu.. cool...

nah ginilah, dr kemarin ga bisa komen ... :D

Si_Isna said...

jadi pengen nyobain harimonting...!!!
di tempat saya ga ada buah kek gitu...

richo said...

wah bikin perkebunan kopi aja bang, tar buka kape sekalian.... mantap

DESFIRAWITA said...

hihihi..
jadi kepengen...

Violet said...

postingan nya belakangan ini, berisi kata-kata bijak yah. like it. membuat aku juga jadi termotivasi. Berhubung belum banyak yang bisa kuberikan buat ortu.

harimonting..pernah dengar namanya, tapi belom pernah nyoba. hehehe.
yang pernah kucoba itu buah yg mirip harimonting bentuknya, tapi asam banget. Kata si opung itu untuk nambah darah. Lupa namanya apa. hehe

Bandit Pangaratto™ said...

SarI; enak kok emang... hehehe

Zee: hee.. masih bisa lebih bagus lagi kok..


Isna: hahaha, enak lo enak lo...

Richo: hehhe..

Desfi: pengen apa?


Violet: ahhaa... hehehe.. itu namanya Tiung kayaknya, tapi lebih besar dari Arimonting itu.. klo gak salah banyak kok itu di Jakarta atau Bandung, terong belanda namanya..!

Hesty Wulandari said...

kalo di padang namanya karimuntiang..jarang makan soalnya ga pernah sukses menemukan yang manis..postingannya emang bagus kawan..bikin aku rindu pulang juga..thanks for share ya

Henny Y.Wijaya said...

hiks,,padahal udah ngiler liat markisanya. ga taunya nggak dibagi-bagi. hehe

nanzzcy said...

Oh abangg..aku terharu sekali membacanya.. kan ada tuh lagunya, anakon ki do hamonangon di ahu *bener gak ya tulisannya*

btw, markisanya mana???
kok ga same sini :)

Bandit Pangaratto™ said...

Hesty: senang mendengar namnya dalam bahasa lain... thanx infonya ya... :D


Henny: hihihihihi


nanzzcy: lebih tepatnya, Anakhon hi do hamoraon di ahu... heheh

markisanya sudah jarang ditemukan ito, hehehe

Yessi said...

ahhh..bikin iri aja kau, Dit! :P

Etha said...

sirup markisa enak deh ... ^^

anyin said...

hebatnya pengorbanan seorang ibu :)

anyin said...

I love coffeeeeee :D

Quinie said...

huahahaha..arrooon.. lu bisa ajah ya ngambil ati emak kau...

tapi, salut ya sama ortu, sebandal apapun anaknya, tetep ajah diusahakan yang terbaik untuk kita.

sekarang udah ga bandal lagih kan kau?

merry go round said...

Ada award buat kamu...dijemput yaaa :)

Pitshu said...

enak yah klo ada kebun gitu, walaupun hasilnya bukan untuk di jual buat makan sendiri kan ok juga, bokap g itu tangannya "hijau" lho!, cangkok ini itu pasti jadi, di rumah ada poon jambu aer yang cuma setinggi pinggang tapi bisa berbuah dan manis hahaha, pon jambu bonsai hahaha ^^ *potoin markisa donk*

Osi said...

Harimonting itu apaan ya...buah atau sayur ???

Kalo saya sie biasa minum syrup markisa...buah markisa pernah makan namun begitu jarang ada di kota saya...belinya juga di mall....

Salam ya buat bunda tercinta

Bandit Pangaratto™ said...

Yessi; ahahaha...

Etha: no doubt it..

anyin; no boubt it.. love coffeee? we are in the same way.. hehehe

Quinie: iya, saya bangga dgn ibu saya.. dgn pengorbanannya... sekarang saya sudah bandal dlm bentuk lain... heheheh


merry: Thanxx... i appreciate that..


Pitshu: hehehehe... iya, saya setuju.. moto markisa? seems like it's hard to be done Dear... hehheh


Osi: Buah kecil yang rasanya manis... heheheh

zujoe said...

harimontiong cuma ada di sono ya???? keknya enak bgt tuh hihi...

Bandit Pangaratto™ said...

zujoe: gak hanya di desa saya kok.. di Padang tuh katanya ada...

dita.gigi said...

ya ampuuunn... lihat buah2an nya bikin ngiler...

dirumah ku juga banyak buah2an... ada markisa, sawo, jeruk nipis, dan... udah kayak nya segitu aja... :D

Bandit Pangaratto™ said...

dita: then bring it here, so we can talk about fruits...

Sampe said...

Luar biasa, tulisan amang sangat inspiratif.

Horas ma dihita saluhutna

Sampe Sitorus
http://sitorusdori.wodpress.com