#3. Siapa yang mindahin Ujung Kulon?

24 March 2011
Mungkin kawan-kawan pernah mbaca di salah satu postingan saya, yang ada hubungannya ketika Indonesia tercinta ini masih 27 propinsi. Jika disuruh guru kami melafalkan ke dua puluh tujuh propinsi beserta ibukotanya di depan barisan atau kelas, saya sering ketuker antara ibukota NTT dan NTB... Antara Mataram dan Kupang. Nah, belakangan setelah tumbuh besar dan membesar (ahhh), saya bahkan jadi merantau ke kedua propinsi tersebut, tepatnya ke Sumbawa Besar, NTB dan Maumere, NTT. Meskipun keduanya bukan di ibukota propinsi.

Nah, ada satu lagi cerita tentang masa sekolah saya waktu kelas 5 SD, kira-kira tahun 1996/1997an. Waktu itu guru kelas kami adalah Pak Munthe. Kadang kalau sudah pelajaran IPS, bapak guru kami ini suka membuat soal cerita, modelnya begini:

Satuuuu...... (baru di pintu kelas, beliau sudah menyerukan "satuuu", tandanya semacam kuis kalau sekarang di bilang, akan dimulai), kami kemudian menyiapkan selembar kertas dan sipa-siap menyimak pertanyaan yang akan diberikan.

Seorang bernama Gazali mau pergi ke Jakarta, dia naik pesawat melalui bandara di Sumatera Utara yaituuuu? ........... (1), kemudian dia tiba di Jakarta di bandara?.....(2). Di Jakarta dia bertemu keluarganya, dan menyerahkan tumbuhan parasit untuk dijadikan obat, nama tumbuhan tersebut adalaaaaah?.............(3) Setelah di Jakarta, si Gazali juga menemui sanak saudaranya di Jawa Barat yang ibukotanyaaaa? ......(4). Di Jawa Barat, paling ujungnya ada sebuah hutan suaka marga satwa. Namanyaaaa? ............(5)

Soal cerita itu minimal 20,... kadang 22, atau bahkan 40...
Dan dari situlah saya ingat betul kalau untuk jawaban nomor 5 itu adalah Suaka Marga Satwa Ujung Kulon, Bandung, Jawa Barat. Dan ini sudah melekat diotak saya. Hingga beberapa hari kemarin, atau hingga di postingan sebelumnya.

Kemudian saya menggogling sejarah Ujung Kulon yang beberapa kali sudah berubah statusnya.

Petanya ini. Diambil dari sini. Nah itu dia, di ujungnya Jawa Barat kan?




Dan ini sejarahnya, diambil dari sini:

Tak kenal, maka tak sayang. Begitu kata pepatah lama mengatakan.. Nah, bagi yang belum mengenal Ujungkulon, mungkin sebaiknya menyimak sejarah terbentuknya Taman Nasional Ujungkulon mulai dari jaman Belanda sampai sekarang sebagai berikut:

Tahun 1846, Kekayaan flora dan fauna Ujung Kulon pertama kali diperkenalkan oleh Junghun dan Hoogerwerf ahli botani berkebangsaan eropa. Pada waktu itu mereka melakukan perjalanan ke Semenanjung Ujung Kulon untuk mengumpulkan beberapa species tumbuhan tropis yang eksotik.

Satu dekade kemudian, keragaman speciesnya dinyatakan dalam laporan perjalanan ilmiah yang dimasukkan ke dalam jurnal ilmiah.

Tahun 1883, Pada bulan Agustus gunung Krakatau meletus, menghasilkan gelombang tsunami yang menghancurkan kawasan perairan dan daratan di Ujung Kulon serta membunuh tidak hanya manusia akan tetapi satwa dan tumbuhan. Pada saat itu seluruh kawasan Ujung Kulon diberitakan hancur. Sejak letusan gunung Krakatau yang dahsyat tersebut, kondisi Ujung Kulon tidak banyak diketahui, sampai kemudian dilaporkan bahwa kawasan Ujung Kulon sudah tumbuh kembali dengan cepat.

Tahun 1921, Ujung Kulon dan Pulau Panaitan ditetapkan oleh Pemerintah Hindia Belanda sebagai Cagar Alam Ujung Kulon-Panaitan melalui SK. Pemerintah Hindia Belanda No. 60 tanggal 16 Nopember 1921.

Tahun 1937, Dengan keputusan Pemerintah Hindia Belanda No 17 tanggal 14 Juni 1937 diubah menjadi Suaka Margasatwa Ujung Kulon-Panaitan

Tahun 1958, berdasarkan SK. Menteri Pertanian No. 48/Um/1958 tanggal 17 April 1958 berubah kembali menjadi kawasan Suaka Alam dengan memasukan kawasan perairan laut selebar 500 meter dari batas air laut surut terendah Semenanjung Ujung Kulon, dan memasukkan pulau-pulau kecil di sekitarnya seperti Pulau Peucang, Pulau Panaitan, dan pulau-pulau Handeuleum (pulau Boboko, pulau Pamanggangan)

Tahun 1967, Dengan SK. Menteri Pertanian No. 16/Kpts/Um/3/1967 tanggal 16 Maret 1967, Gn Honje selatan seluas 10.000 ha masuk kedalam kawasan Cagar Alam Ujung Kulon.

Tahun 1979, Gn Honje utara masuk kawasan Cagar Alam Ujung Kulon melalui SK. Menteri Pertanian No. 39/Kpts/Um/1979 tanggal 11 Januari 1979, seluas 9.498 ha.

Tahun 1980, Tanggal 15 Maret, melalui pernyataan Menteri Pertanian, Ujung Kulon mulai dikelola dengan sistem manajemen Taman Nasional.

Tahun 1984, Dibentuklah Taman Nasional Ujung Kulon, melalui SK. Menteri Kehutanan No. 96/Kpts/II/1984, yang wilayhnya meliputi: Semenanjung Ujung Kulon seluas 39.120 ha, Gunung Honje seluas 19.498 ha, Pulau Peucang dan Panaitan seluas 17.500 ha, Kepulauan Krakatau seluas 2.405,1 ha dan Hutan Wisata Carita seluas 95 ha.

Tahun 1990, Berdasarkan SK. Dirjen PHPA No. 44/Kpts/DJ/1990 tanggal 8 Mei 1990, kawasan Taman Nasional Ujung Kulon mengalami pengurangan dengan diserahkannya Kepulauan Krakatau seluas 2.405,1 ha kepada BKSDA II Tanjung Karang, Hutan Wisata Gn. Aseupan Carita seluas 95 ha kepada Perum Perhutani Unit III Jawa Barat. Selanjutnya luas kawasan TN. Ujung Kulon berubah menjadi 120.551 ha meliputi kawasan daratan 76.214 ha dan kawasan perairan laut seluas 44.337 ha.

Tahun 1992, Ujung Kulon ditetapkan sebagai Taman Nasional dengan SK. Menteri Kehutanan No. 284/Kpts-II/1992 tanggal 26 Pebruari 1992. Meliputi wilayah Semenanjung Ujung Kulon, Pulau Panaitan, Pulau Peucang, P. Handeuleum dan Gunung Honje. Dengan luas keseluruhan 120.551 ha, yang terdiri dari daratan 76.214 ha dan laut 44.337 ha.

Tahun 1992, Taman Nasional Ujung Kulon ditetapkan sebagai The Natural World Heritage Site oleh Komisi Warisan Alam Dunia UNESCO dengan Surat Keputusan No. SC/Eco/5867.2.409 tahun 1992 tanggal 1 Pebruari 1992.

Dan Propinsi Banten sendiri merupakan pemekaran dari Propinsi Jawa Barat, dibentuk tanggal 4 Oktober 2000 dengan Undang-undang nomor 23 Tahun 2000 dengan pusat pemerintahan kota Serang. Nah, dan Ujung Kulon itu sendiri menjadi wilayahnya Propinsi Banten. Jadi seharusnya kemarin itu saya tak perlu ke Bandung, Jawa Barat jika tujuannya mau ke Ujung Kulon....

Setelah tersadar, (tersadar dari rasa malu dan ngakak-ngakak gak jelasnya) kemudian saya melihat peta Jakarta, Jawa Barat dan Banten. Jadi kemarin itu saya menempuh perjalanan dari Tangerang Selatan (Bintaro) ke Stasiun Gambir (Jakarta Pusat) ke arah tenggara, padahal seharusnya ke barat atau barat daya saja.

Jadi nilai yang bisa diambil dari kejadian ini adalah:
  1. Ajarkanlah sesuatu yang benar kepada siapapun, terutama itu anak-anak. Ajaran itu bakal melekat sampai lama, (tuh tadi buktinya saya).
  2. Teruslah mengupdate informasi yang dimiliki. Jangan kayak saya, ah... malu saya bah...!
  3. Teruskan saja sendiri...
Jadi siapa yang mindahin Ujung Kulon?
Terdengar sorakan pembaca: "Ah, lo ajah yang katrok, Ndit...!" :D
Si Bandit nyahut: "Akh, biarin, setidaknya saya masih punya sesuatu untuk diperjuangkan sebagai petualangan...!" :P

5 comments:

Zee said...

Belajar memang gak boleh asal-asalan ya, setidaknya kalau kita tidak yakin atau tidak tahu, bisa cari sumber yang dapat dipercaya. ^^

joe said...

setidaknya hanya berpindah dari jawa barat ke banten, dan bukan ke malaysia

tampumargana said...

ada salah satu pertanyaan pak Munthe yang ndit lewatkan,," malu bertanya kita,,,,,,??" kalau tidak lupa,, lae si janggaleman jawabnya "malu bertanya kita tersesat dan kehabisan ongkos serta waktu 'pak, karena mutar2,
btw jadi tau dikit nie ttg ujung kulon,good posting

Vicky Laurentina said...

Hmm..memang sudah 10 tahun lebih Ujung Kulon tidak lagi jadi tanggungjawabnya orang-orang Bandung.

Malah sebetulnya nggak ada jalan darat yang bagus dari Bandung ke Ujung Kulon. Kalo mau nyaman ke Ujung Kulon ya kudu lewat Serang dan Jakarta dulu.

Semoga posting ini menyadarkan hadirin blogger lainnya supaya tau geografi. Salah satu gunanya geografi adalah bikin orang jadi nggak gampang kesasar.. :D

Etna Khairullah said...

hahaha...bang bandit ni pailahon gara2 pelajaran sd tahun perjuangan, sampe kekeuh banget itu ujungkulon ada di bandung, ya sutralah yg penting akhirnya nyampe juga...ga ditempatnya *roftl