#1. Bermalam di Stasiun Gambir

21 March 2011
*Penampakan wajah saya di header blog itu tidak dimaksudkan untuk menarsiskan diri. Tapi biar kesannya kita lagi ngobrol hadap-hadapan...! *dikeplak pake kolor

Akhirnya saya pulang juga dari jalan-jalan paling aneh di hidup saya. Sebenarnya saya malu nyeritainnya, tapi mau bagaimana lagi, demi anak cucu saya yang butuh cerita tentang saya kelak, tetep harus saya ceritakan...

Hari Kamis, 10 Maret 2011 adalah hari terakhir UTS bagi kami. Berhubung teman saya, si Ata, yang akan jalan-jalan sama saya akan ke Jepara karena sudah janjian sama kawannya bakal ikut acara gigs tgl 19, maka kami langsung memulai acara petualangan kami sore itu. Jam 4 sore kami berangkat menuju Stasiun Gambir dengan tekad bakal jalan-jalan di Tugu Monumen Nasional, kemudian menginap di stasiun.

Saya kemudian nebeng teman saya si Budi (Bro Bud) ke Gambir, dia mau pulang ke kampungnya Madiun. Nebeng disini artinya ngikut karena saya dan Ata belum tahu transportasi menuju ke Stasiun Gambir. (*maafkeun). Berangkatlah kami bertiga dari kosan menuju Ceger, dari sana naik angkot 12 (bisa juga 02 atau 7) ke persimpangan Kreo. Kemudian dari sana naik Bus 44 Ciledug - Senen menuju Stasiun Gambir. Tak ada halangan berarti yang kami hadapi, kecuali si Bro Bud yang butuh pulang dulu kekosan karena dompetnya ketinggalan di celana satunya. Cukup menginspirasi saya untuk lain kali menaruh dompet ditempat yang minim kemungkinannya ketinggalan, seperti di dalam sempak atau diikatkan di tali beha.

"Sudah siap kau kawan? Berpetualang lho?"
"Hehehehe...!"

Bus 44 ini rasanya bergerak sangat lambat, kurasa kalau saya jalan kaki mengiringinya mungkin saya duluan yang sampai ke Stasiun Gambir. Saking leletnya (ditambah macetnya) menambah nafsu saya untuk muntah, mabuk bis... Dah mulai hoek hoek ni saya...

"Iyo, sebenarnya saya ini gak terbiasa naik bus AC. Terbiasa dikampung naik kerbau atau kuda yang ber AC alam, sekalinya kena AC bus gini jadi menggoda si perut dah...!"

Kalau sudah mabuk gini rasanya wanita cantik disamping sayapun sudah tak berhasil mengobatinya. Hoekkk, hoekk.... Sungguh, saya tidak cocok dengan aroma bus ber AC. Tapi, bukan bandit namanya kalau gak bisa ngatasinnya. Saya kemudian membayangkan kekasih saya, betapa repotnya dia nanti kalau sampai saya ngajak dia jalan-jalan, dan dia harus kerepotan ngurusi saya karena mabuk. Voilaaa... berhasillll...! Saya gak mabuk sampai ke Stasiun Gambir... Hahahahahahaha. Wanita memang hebat, dibayangkan saja sudah menyehatkan kemabukan... :D

Sekitar jam setengah 7 an kami sampai di Gambir, kemudian si Bro Bud sholat, kemudian mengajarkan kami tentang situasi di stasiun Gambir. Dimana beli karcisnya, dimana ruang informasinya, dimana jadwal kereta apinya dan dimana nyegat Bus 44 jika nanti pulang. Kemudian saya dan si Ata membeli tiket kereta Argo Parahyangan Jakarta - Bandung untuk besok harinya pukul 05.45. Dan kemudian melepas keberangkatan si Bro Bud setelah ngobrol beberapa waktu. Belakangan kami tahu keretanya si Bro Bud telat...

Kemudian kami menuju Monumen Nasional, dengan niat awal menelusuri melalui pinggirannya, kemudian nanti beristirahat di dekat Tugu nya. Dan kami berjalan-jalan di sekitaran monas, sesekali melirik kearah pasangan-pasangan yang tak jelas wajahnya itu (gelap soalnya) di keremangan.. Ternyata kami tak sanggup berjalan kaki menelusuri monas. Kami kemudian membeli minuman dan beberapa camilan, dan menghabiskannya sembari menonton anak-anak yang bermain futsal. Ngobrol ngalor-ngidul kesana-kemari tak terasa minuman dan camilan kami sudah habis... Jam juga sudah menunjukkan hampir jam 12 malam, kami kemudian menuju ke stasiun. Memberitahukan kepada satpam bahwa kami punya tiket untuk kereta Argo Parahyangan besok pagi, dan ingin menginap di stasiun. Dan kami diijinkan dan diminta untuk berhati-hati dan menjaga barang-barang kami.

Sebelum tidur kami mondar-mandir di dalam stasiun mencari tempat yang cocok untuk ditiduri.. (Rasanya ditidurinya ambigu ya?). Dan kami menemukan kulkas minuman yang pake koin, entah apa nama kerennya... Dan kami foto-fotoan dengan noraknya... Hahahaha.
"Ini di Maumere gak ada Bro, jadi harus poto sekarang...!"
"Iyo yo, koyok nang Jepang jepang...!"


Kami berniat untuk beli minuman itu besoknya, tapi gak jadi

Dan itulah, malam itu sembari membaca buku bacaan yang kami bawa, kantuk mulai menyerang, kami tertidur, terbangun beberapa kali karena nyamuk. Jaket, sepatu, kaus kaki dan celana panjang menjadi pelindung tubuh kami dari si nyamuk. Malampun berlalu dan tiba giliran si pagi memamerkan dirinya, hari ini kami akan berpetualang.... Ke Ujung Kulon....!


10 comments:

Pitshu said...

Gambir kek na suasanya lebih idup 24hour ketibang bandara international kita yang katanya 24hour tapi tengah malam ke kuburan LOL~
inget tragedi cici g yg mendarat tengah malam ga boleh nunggu didalam dan di usir keluar padahal ada kedatangan berikutnya sekitar jam 2-an gitu capekkk deh~

Anonymous said...

haish......
cie cie......
tidur sama ata....

jizu said...

*gubraak* untung gak ditawar ma om om senag wakakakakak

bandit™perantau said...

Pitshu: iyo... di Gambir labih idup, mungkin karena deket monas kali ya...?


Anony: Diam kau... hahahahha

Jizu: Pasti ane jual mahal gan... hahahahahahah

Violet said...

ga heran klo yang punya blog ini suka foto2 dengan norak, karena saya sudah menyaksikan sendiri.
hehe

Vicky Laurentina said...

Saya pikir dulu keliling Monas itu cemen, tapi ternyata Monas tuh luas juga yah. Sebel kalo saya ke Monas ternyata liftnya rusak. Jadi nggak bisa naik ke puncak tugu yang ada emasnya itu dong..

bandit™perantau said...

Violet: pasti sebuah kebanggan buatmu ya... jalan2 sama bandit... hahahahahaha


Kak Vicky: Tapi kami juga belum naik kok... :D... Kesana malam hari soalnya... :D

Tri Setyo Wijanarko said...

cukup seru juga kok tidur di stasiun. saya juga pernah mengalami tidur di stasiun ataupun bandara. nah kalo di terminal bus yang belum pernah, dan rasanya nggak berani juga sih..

bandit™perantau said...

Tri Setyo: Sama Om... saya takut kalo dah namanya terminal... Jangankan tidur, mau naik bus lewat terminal saja saya sudah agak ngeri... hehehe. Pernah di tarik-tarik soalnya di Bungurasih, Surabaya... :D

bandit™perantau said...

Tri Setyo: Sama Om... saya takut kalo dah namanya terminal... Jangankan tidur, mau naik bus lewat terminal saja saya sudah agak ngeri... hehehe. Pernah di tarik-tarik soalnya di Bungurasih, Surabaya... :D