#2. Saya baru tahu Ujung Kulon itu di Banten

23 March 2011
Postingan kali ini berpotensi membuat kawan-kawan ngakak dan mencela betapa dongdongnya saya. Tapi biarlah, toh harus saya posting secara jujur dan apa adanya. Setidaknya demi anak cucu saya kelak...

Jadi setelah kami bangun pagi itu, saya kemudian menunaikan kewajiban saya ke toilet. Bergantian dengan si Ata karena salah satu dari kami harus menjaga barang-barang bawaaan kami dari jawilan makhluk penjawil. Setelah kemudian si Ata sholat, sayapun cuci muka dan sikat gigi. Disini saya baru tahu kalau toilet di dalam stasiun yang setelah melewati peron itu gak bayar. Kalau di luar kan seribu perak coy... :D. Setelah beres, kami kemudian menuju lantai tiga, jalur empat kereta api dan menunggu kedatangan kereta yang tak berapa lama kemudian tiba...

"Kereta Api Argo Parahyangan, tepat pada waktunya segera diberangkatkan menuju Stasiun Bandung bla bla bla.... Hati-hati barang bawaan Anda, jangan sampai ada yang ketinggalan, terlebih jika salah satu bawaan Anda adalah kekasih hati Anda... Jangan sampai ketinggalan...!" kurang lebih seperti itulah pengumuman yang saya dengar... Yang kurang tambahin, yang lebih kurangin ya... Jangan protes sama saya jika kurang tepat... :D

Kami berdua kemudian duduk berdampingan. Sesuatu yang seharusnya romantis jika yang kita dampingi dan mendampingi kita adalah kekasih hati. Ahaaa. Tapi sayangnya kali ini dengan kawan terkasih yang notabene sama-sama manusia berjakun. Salah satu kerugian kalau jalan-jalan bareng kawan itu adalah, doa "supaya nanti duduk bersebelahan dengan gadis-manis-cantik-sukamenabung-pintar memasak-sopansamamertua-dan-penurutsamasuami" itu jadi kecil kemungkinannya terkabulkan.. Hahahahah. *bercanda coy. Sesekali kami ngobrol, sesekali asyik dengan buku bacaan kami masing-masing, dan kadang malah ketiduran seolah-olah menuntut bayaran atas kurang nyenyaknya kami tidur malam sebelumnya.

Pemandangan di kanan kereta (kebetulan kami di seat kanan) kadang indah, kadang biasa saja, kadang keren dan kadang serem... Yang jelas semua kombinasi itu menjadi sebuah keindahan yang pantas untuk dinikmati. Atau mungkin begitu karena baru itu pertama kalinya naik kereta melewatinya. Beberapa kali si Ata merekam pemandangan di sisi kanan kami dengan hapenya. Saya, cukup merekamnya dengan mata saya. Jadi jika kawan mau melihat pemandangan yang kami lihat waktu itu, kawan punya tiga pilihan.
  1. Melihat kedalam mata saya dan dimemori otak saya. Terus terang cara ini agak kurang menyenangkan. Baik bagi kawan, maupun bagi saya...
  2. Lewat hapenya si Ata.... *Arep tak aplod, tapi kosane rodho adoh nek dijupuk saiki, opo maneh saiki aku ra klambenan, kepanasan soale...
  3. Naik kereta api seperti kami saja... Hahahahaha
Kira-kira 3,5 jam-an (jam-an batu, jam-an besi, jam-an berburu dan setengah jam-an bercocok taman eh tanam), tepat pada waktunya kami pun sampai di Stasiun Hall Bandung. Keluar dari kereta rasanya senaaaaang kali. Entah kenapa... Sumpah deh, kalau lagi senaaaaaang kek gini biasanya saya tambah tampan. *dilempari Android... *tangkepin

Dan sesampainya di stasiun saya mengsemeses kawan saya, menanyakan kalau ke Ujung Kulon dari stasiun caranya gimana? Dibalas: Naik bis yang arah ke Pandeglang atau Serang dari terminal Lewi Panjang. Mungkin kawan sudah menyadari kebodohan saya. Tapi waktu itu saya belum menyadarinya. Merasa lapar, kami kemudian memutuskan untuk sarapan di rumah makan masakan padang dekat stasiun. Kami menanyakan angkutan yang akan ke Lewi Panjang sama bapak penjualnya. Katanya dua kali angkot. Sembari makan, saya kemudian numpang nge-charge batere hape saya. Biasa, sama kayak yang punya tiap pagi harus di-charge. Bedanya, hape di-charge sama listrik, yang punya di-charge sama istri... Ehhh?

Setelah makan, kamipun membayar (*plak... ya iyalah, masak baru sekali ke Bandung langsung ngutang?), kamipun beranjak jalan kaki sebentar karena menurut perkiraan aplikasi gps si Ata, dari tempat kami ke Terminal Lewi Panjang itu cuman beberapa mil. Dan menurut si Ata beberapa mil itu sekitar 4 kiloan... Kami putuskan jalan kaki saja.. Empat kilo itu dekat... :D. Namun merasa gak sampai-sampai, kemudian kami naik angkot dua kali lagi... :D

Sesampainya di terminal Lewi Panjang, kamipun menanyakan bis yang mau ke Ujung Kulon. Dan sayapun menyadari kedongdongan saya, katanya harus naik bis yang menuju Serang, Banten. Dan otak mini saya kemudian mengatakan bahwa Banten itu khan Tangerang. Lha terus kalau mau ke Ujung Kulon ngapain ke Bandung? Hahahahahahahahahahahaha

Penasaran kisah selanjutnya yang tak kalah dongdongnya? Besok..!

7 comments:

henny said...

masih untung, setidaknya ujung kulon itu tempat terkenal. kalo aku malah beda, dulu teman-teman suka mengejek kalau orang yang rumahnya jauh banget itu di "ujung berung" padahal,,ujung berung itu letaknya di jawa barat. nggak jauh-jauh amat. hahaha

@minumino said...

loh loh loh, DI BANDUNG??? di mana?

tukangjagal said...

jiakakakakakakakaaa......

lho hpne ata saiki iso digawe ngrekam yo??? ono GPSe juga yo????
sangaaaarrrrr,,,,,,,,,

i-one said...

haha..salam kenal,klu ada waktu kunjungi blog ane ya

Violet said...

mak oii, terkejut aku. kok tiba2 ada sepasang mata menatap tajam. hahaha.
hasil lukisan siapa itu? bagus ya.

perasaan ada orang yg ngaku2 dari tangerang ke bandung cuma pemanasan. ternyata oh ternyata.
woakakakkak....

bandit™perantau said...

Henny: hahaha, justru karena terkenal gitu kok saya bisa gak tahu itu di banten? hahahaha


Mino: Iya kmaren 3 malam di Bandung... ke Tangkuban parahau, kawah putih dn situpatenggang... :D


Galih: iya dong... khan dah di kota besar jeh... mwahahahahaha


Iwan: salam kenal juga bro...

Violet: Lukisan saya donk... *PD... hahahahah... Diam kau akh... :D

Sang Cerpenis bercerita said...

better late than never deh. daripada gak tau terus