Nangahale: Sebuah Perumahan Pemukiman Kembali

15 November 2010
Karena cuma sebentar di Gua Jepang di Maumere di postingan sebelumnya, dan matahari masih condong kearah timur, kami kemudian memutuskan untuk menlanjutkan perjalanan ke Pantai Pruda. Kurang lebih 2 jam perjalanan jauhnya dari lokasi Gua Jepang itu. Namun berhubung jam sholat sudah dekat, kami mampir dulu di sebuah masjid di desa Nangahale, sekitar 45 menit dari Gua Jepang.







Desa ini merupakan sebuah desa yang dibangun sebagai pemukiman kembali bagi masyarakat dari Pulau Babi. Dibangun tahun 1993 setelah kampung mereka dilanda tsunami tahun 1992.

Sambil menunggu teman0teman yang sholat dan sehabis mencomot 4 gorengan yang dijual oleh salah seorang warga, sayapun berkeliling sebentar di desa itu.


Salah satu gubuk penduduk, tempat mengolah garam

Dan sedikit lega, ternyata angkot Maumere sampai ke sini juga.


Lapangan Volley yang bermultifungsi jadi tempat penjemuran ikan

Saya dan salah satu teman rombongan kemudian masuk kesalah satu gubuk itu, melihat ibu-ibu yang duduk-duduk menyulut rokok, sambil dipijiti oleh (mungkin) anak atau ponakannya. Menunggu garamnya matang. Lho? Iya, disini mereka memasak air lautnya hingga mengkristal jadi garam. Kemudian kami ngobrol-ngobrol dengan mereka. Katanya air laut itu dimasak kurang lebih 3 jam.

Dan semoga yang tertulis di papan peringatan itu tidak lagi terjadi.



Demikianlah sedikit kisah perjalanan kami ke Nangahale sebelum menuju ke Pantai Pruda. Selidik punya selidik ternyata dari desa inilah kebanyakan para turis, baik dalam negeri maupun mancanegara, bertolak jika ingin menuju ke Pangabatang. Tidak harus dari dusun Blatat, Darat Pantai seperti yang selama ini kami lakukan. Malah katanya sudah menjadi spesialisasi penduduk setempat untuk mengantarkan para wisatawan kesana.

Sebagai penutup:
"Semoga kesederhanaan penduduk setempat yang tergambar di foto-foto itu (setidaknya sedikit) memampukan kita untuk mensyukuri apa yang sudah ada dihadapan kita, mensyukurinya dengan memiliki sikap hidup yang lebih baik.... karena saya juga menemukan senyuman di desa itu...!"


7 comments:

Seiri Hanako said...

pengen jalan-jln n foto memoto deh baca petualanganmu..

Pitshu said...

jadi bertanya2 sampean itu kerjanya jalan2 yah :)

dj martha said...

bener banget, terharu baca tulisan penutupnya,

kesederhanaan warga setempat bikin hati trenyuh ya bro...

dari raut wajah mereka pasti kelihtan guratn ketulusan, wahhh rindu kampung halaman jadinya..

Lisha Boneth said...

garemnya dimasak selama 3 jam?
lumayan makan biaya juga untuk bahan bakarnya yaah..
pdhl garam semurah itu..
:((
huhuhuhu..

enw, enak kau yaa.. udah semua kau jelajahi.. mumpung masih muda, teruskan petualanganmu dik! :P

Irwan Bajang said...

dokumentasi yang asik... ah perjalanan. baru saja ngeblog tentang perjalanan...
apa kabar? lama tak saling mengunjungi... heehe

bandit™perantau said...

Kak Seiri: Hehehehe... :)

Pitshu: Hmmm, saya kerjaannya memang mesti jalan-jalan... dari ruangan ini ke ruangan sana,,, dari ruangan sana ke ruangan situ... heheh, Klo yg ini mah kegiatan di akhri pekan saja... :)


Kak Martha: AYo kita pulkam... hahahah


Kak Lisha: :)... bersyukurlah...

Irwan: Kabar baik bro... heheh, iya nih... lg jarang blogwalking... :)

Template Booklet Company Profile said...

jadi bertanya2 sampean itu kerjanya jalan2 yah :)