Kopi Ross

06 December 2012
Baru saja saya menyeduh segelas kopi untuk saya nikmati pagi ini, (*melirik jam yang sudah 5 menit lagi sudah jam 11). Teringat kalau kemarin saya juga teringat akan segelas kopi yang pernah saya nikmati di Siantar. Sembari mensyukuri nikmatnya terik matahari karena sedang menjemur pakaian di Bintaro pagi ini (*melirik lagi, masih jam 11), ada baiknya saya buatkan postingannya. 

Ada banyak hal Kawan yang mungkin bisa menjadi alasan kenapa kita mengingat segelas kopi yang pernah kita minum. Mungkin karena kopinya terkenal macam kopi Sidikalang, atau karena harganya mahal macam kopi biasa yang anda pergi membelinya di salah satu warung di Meksiko. Atau karena perpaduan terkenal dan mahal macam kopi luwak. Atau tempat ngopinya, dengan siapa ngopinya atau peristiwa apa yang terjadi pas ngopi itu... Bermacam-macamlah,...

Kopi Sidikalang yang terkenal itu (entah buat Kawan itu terkenal atau tidak), saya pernah menikmati sebungkus kurang lebih 1 kiloan. Waktu itu saya masih di Maumere, dan si Ross mengirimkannya. Seduhan pertama tak berhasil saya nikmati kawan. Anda pasti tahu rasanya kopi hitam kalau diseduh dengan air panas hasil dispenser, gak enak. Karena bakal lucu sekali kalau saya minta dikirimi pendidih air, akhirnya saya beli juga di Roxy Swalayan dekat mess kami.

Kopi yang harganya mahal. Saya belum pernah menikmati kopi jenis ini. Kawan bisa menambahkan pengalamannya jika mau di kolom komentar. Biar saya tak perlu menikmati kopi mahal dulu untuk menjelaskannya.

Kopi luwak. Nah, kalau jenis kopi yang ini, mungkin saya pernah menikmatinya. Jadi waktu pulang kampung 2011 kemarin saya banyak bercerita tentang kopi luwak ini dikampung. Meski tak terlalu paham kenapa mahal, tapi katanya ada hubungannya sama kesehatan begitu. "Jadi Mak, kotoran hewan itu lebih mahal dari kotoran manusia...!" begitu ujar saya dulu waktu mai sedang memetik kopi di kebun kami yang tak seberapa itu. Emak penasaran. Penasaran karena kalau urusan mahal-murah (baca: uang), si Emak gak rela pembahasannya tidak tuntas. Jadilah saya jelaskan kalau kopi luwak itu ya kopi yang ditaikkan oleh luwak itu. Dan penjelasan saya ditimpali dengan sedikit penyesalan si Emak, karena sebelumnya pernah menangkap seekor luwak dan memasaknya. Penyesalan Emak berimplikasi pada kesedihan saya, karena si Emak sudah pernah makan daging luwak sedangkan saya minum kopi kotorannya saja belum. 

Setelah kembali ke Bintaro, beberapa bulan kemudian, ketika saya sedang menelepon Emak, katanya dia sudah mengumpulkan kurang lebih 2 takaran biji kopi kotoran luwak itu. Ditambah lagi dari Tulang kami menemukan setumpukan kopi kotoran luwak itu di dekat-dekat kebunnya. Puji Tuhan, akhirnya diolah sendiri sama si Emak hingga menjadi bubuk kopi dan dikirimkan ke Bintaro. Terimakasih kepada Emak, terimakasih kepada Tulang, terimakasih pada Luwak. Kopi itu saya nikmati dengan penuh syukur. Kadang sembari menemani belajar. Dan kemarin kami dinyatakan lulus. Bagi saya ini lulus yang istimewa, berbarengan dengan lulusnya semua kopi luwak itu saya habiskan. Oh iya, big kredit untuk pendidih air punya teman saya, Surya P (Nama teman saya, bukan nama pendidih airnya).

*sruputtttt

Tentang tempat ngopi dan teman ngopi, ngopi-mengopi yang saya ingat adalah ketika ngopi di Malang atau di Surabaya bersama Tulang saya. Di Surabaya bisa dikamar, depan kamar atau tempat lain yang memungkinkan. Di Malang biasanya dikamar, kalau gak di depan kosan. Kopi seolah-olah menjadi pengikat di antara paman dan ponakan. Paman-KOPI-ponakan. Macambegitulah kira-kira. Kalau sudah begitu banyaklah nasehat terucap, cerita mengalir, humor terujar, tawa yang lucu (coba bayangkan anda atau orang lain tertawa padahal dimulutnya masih ada seteguk kopi). Nasihat melecut kehati seiring melesatnya seduhan kopi ke lambung. Itulah hebatnya segelas kopi. Salah satu cerita yang sebenarnya gak lucu tapi entah kenapa waktu itu cukup lucu. Sambil mengopi, Tulang membocorkan cerita kalau suatu ketika dia sama Amangtua pernah mau mengopi dimana gitu, dan Amangtua ini pesen kopi.

"Mau kopi ireng apa kopi susu, Pak..?" tanya si penjual
"Lae, mau kopi ireng apa kopi susu..?" Tulang menymapaikan ke Amangtua...
"Apa itu kopi, Ireng..?" tanya Amangtua...
"Ya, kopi biasa Lae...!" ujar Tulang
"Biasa gimana..?" tanya Amangtua
"Kopi ireng itu kopi hitam Lae, kopi nabirong...!" jelas Tulang (birong dalam bahasa Batak itu hitam)
"Akh, kalau kopi ya kopilah, gak usah pake ireng-ireng, macam ada aja kopi merah. Kecuali kalau kopi susu, baru bilang kopi susu...!" ujar Amangtua.

*sruputtttt....
Dan tentang peristiwa yang saya ingat tentang kopi adalah, mencret seharian...!
Bintaro, zaman kuliah. Akhir bulan seringkali berbarengan dengan habisnya stock kopi sachetan saya. Jadilah saya beli kopi waktu itu ke swalayan Harmoni. Jadi saya ini suka mencoba kopi-kopi baru yang dijual disitu. Kalau cocok ya bulan berikutnya beli lagi, kalau gak ya gak beli lagi. Dan sepertinya kesukaan saya dengan kopi-kopi baru tidak cocok dengan perut saya. Maklum, orang setia macam saya, lambungnya juga tipe setia Kawan. (*cool, sruput kopi). Jadi pagi itu sebelum kuliah, saya mengopi seperti biasanya. Hari itu harusnya berjalan seperti berikut: "Hari baru, kopi baru, semangat baru, dan haleluya...!"

Hari itu ada 2 kuliah. Kuliah pertama 3 SKS sudah berjalan kurang lebih setengah jalan. Perut mulai berkrucuk-krucuk, bukan karena lapar, krucuk-krucuknya membuat sesuatu di sekitaran perut berkontraksi (percayalah, bukan alat kelamin yang berkontraksi), kontraksinya menuntut saya menggeliat-geliat. Auhhh. Pengen boker. Mau ke toilet kampus pasti gak bisa. Tak hanya lambung saya yang type setia, anus saya juga sepertinya begitu. Kalau ditoilet kampus dia gak mau keluar, harus di toilet kosan. (Kalau ditempat sementara, macam di vila acara perpisahan kamrin, di toilet SPBU atau semacamnya, kadang gak mau keluar lho, atau biasanya mau keluar kalau sudah memuncak tak tertahankan). Toilet kosan dari ruang kelas berjarak 9 menitan kalau jalan normal, jadi kalau mau ijin itu memakan waktu kurang lebih 25-30 menit, perjalanan kelas-toilet kosan-kelas. Keringat dingin mulai mengucur. "Ijin Paakk...!"
Kelas-toilet kosan, sekitar 6 menit, termasuk buka celana, lepas sepatu.
Boker- 7 menitan, termasuk pembersihan dan make celana, handukan ngelap keringat
Kosan - kelas, 8 menitan, termasuk pake sepatu, salaman sama teman yang ketemu di jalan menuju kampus, dan berpisah setelah menepuk pundaknya dengan tangan kiri... (bersih-bersih tadi udah pake sabun kok) :P
Buka pintu kelas, dosen sepertinya sedang keluar, lega...
Lega tidak bertahan lama, kuliah pertama berakhir, kambuh lagi...
Pulang, bawa tas langsung, nitip pesen kalau nanti dosennya jadi datang, tolong sms ngasih tahu saya ya... (teman saya maksudnya ngasih tahu saya kalau dosennya udah masuk, bukan dosennya yang ngasih tahu)
Toilet...
Sakit perut
Memulas
Mencret
Selesai...
Ganti baju
Tiduran...
Nepuk-nepuk perut
Ngelus-ngelus perut
Kringgggg, bunyi sms masuk
"Nikmati bla bla bla bla...." siyal malah  sms provider
Kriingggggg, sms lagi
"Hilangkan mencret-mencret anada dengan minum bla bla bla....!" yang ini bohong
Kringggggg
"Dosen gak jadi masuk Bro....!" si Budi Setyadi, temen saya tadi mengesemeses...
Lega. Kali inilah satu-satunya saya pernah bersyukur dosennya gak masuk..!
Sejak saat itu, sisa kopi sachetan sisanya saya minum kalau lagi libur... Ha ha ha

Ada satu lagi alasan kenapa saya ingat tentang segelas kopi. Tentang siapa yang menyeduhnya. Desember tahun kemarin adalah kunjungan kedua saya ke rumahnya si Ross. Dua tahun setelah jadian, dan bertemu lagi setelah dua tahun LDR. Maumere - Medan atau Maumere - Siantar. Karena Nantulang (Ibunya si Ross) ternyata suka ngopi dan saat itu dibuatkan kopi dan si ross menanyakan saya mau minum apa, saya jawab kopi. 

Kopi pun terhidang, ngobrol banyak hal sama Nantulang. Panasnya kopi berkurang hingga ke derajat yang bisa dinikmati. Kopi itu sama seperti hati dan pikiran manusia. Bisa dinikmati atau digunakan dengan baik kalau sudah tidak terlalu panas lagi. Ditunggu mereda. Kalau dinikmati pas panas lidah bisa melepuh Kawan. Sebelum menghirup aromanya, secara sengaja saya bertekad untuk merekam aroma dan rasanya dalam ingatan saya. Kopi pertama yang diseduh si Ross, kekasih saya, untuk saya. Istimewa kawan... Istimewa... Saya sudah banyak menikmati kopi dalam hidup saya, rasa ini, rasa itu, campur ini campur itu dan macam-macamlah. Dan hari itu, tercipta saya macam kopi dalam hidup saya. Kopi yang saya mohonkan pada Tuhan untuk jangan menghapusnya dari ingatan saya, kopi yang saya doakan untuk saya nikmati lagi, kopi yang saya doakan supaya orang yang menyeduhnya senantiasa berbahagia, Kopi Ross.


7 comments:

Pitshu said...

berhubung g ga suka kopi, mungkin klo di g jadi na teh kali yah! g pecinta teh hahaha :)
ah medan kemarin sempet pulang ke medan liat Oma hahhaha~

-Gek- said...

Setia ada hubungan sama lambung dan kopi... hmmm..
mana itu foto si Ross. perlihatkanlah pada kami-kami iniiii.. :)

Vicky Laurentina said...

Cinta benar kau sama Ross itu. Mana anaknya, aku mau liat, cantik atau tidak Ross itu :)

obat insomnia herbal said...

segala hal tentang kopi, mantep deh..

decoffeematiti said...

Bang, mampir ke blog kami ya...
Thanks

bandit™perantau said...

Pitshu: mana oleh2nya? :D

Gek: ha he ha he....


Vicky: Iyah,. cinta betul .... ha ha ha

Nich said...

Kopi mahal, seperti kopi luwak, sudah pernah kucoba secara gratis, Lae. Tapi jadi kurang berkesan. Tidak seperti segelah kopi jahe yang kunikmati malam pertama LDR dengan mantan pacar waktu itu (sekarang istri) -- pas pulak hujan-hujan, tanpa buka laptop, cuma duduk di warung kopi yang sepi. Sendiri..