Makassar, Day #2

23 April 2013
Biasanya, setelah selesai diklat begini kami ditugaskan untuk melakukan Transfer of Knowledge, semacam In House Training begitu. Di Maumere juga begitu dulu. Nah, saya tidak tahu di Sorong nanti bakal begitu juga atau tidak. Kemungkinan besar sih iya. Tapi daripada menghabiskan energi untuk menduga-duga, lebih baik saya mempersiapkan slide-slide untuk materinya. Sambil sesekali mengutak-atik slide, membolak-balik modul, mengambil inti-intinya supaya tidak terlalu banyak, saya selingi dulu dengan berbagi cerita sedikit...

Diklat hari ke #2 di Makassar ini diawali dengan senam pagi jam 05.30 an mulai. Senam (mungkin beginilah senam ala Makassar) ini mengingatkan saya ketika hampir tiap Jumat dulu kami sering senam pagi juga di halaman kantor ketika masih bertugas di Maumere. Masih terbayang sedikit-sedikit gerakan-gerakannya.... :D. Saya suka olahraga, tapi bukan senam... ha ha ha... Jadi tadi ikut senam gak? Iya, ikut. Tak selamanya kita harus selalu melakukan apa yang kita sukai, ada baiknya kita melakukan juga hal-hal yang tidak kita sukai (yang halal lho). Mungkin tidak terbayangkan manfaatnya secara langsung atau saat ini. Atau bahkan sudah bermanfaat, namun kita tidak menyadarinya. Bisa bermanfaat untuk diri sendiri, ataupun untuk lingkungan...

Nah, saya termasuk orang yang biasanya antusias mengikuti diklat-diklat. Apalagi diklat-diklat yang berbau soft competency begini. Menceriakan kawan. Menceriakan bukan main... :D. Sesuai materi yang disampaikan biasanya diselipkan dengan permainan-permainan, baik kelompok maupun individu. Nah, tadi salah satu game yang harus kami ikuti adalah lomba lari berkelompok. Sekelompok yang terdiri dari 6 orang (jenis kelamin sama), kaki kiri kami diikat dengan kaki kanan teman kami, dan sebaliknya. Hingga menjadi sebaris manusia-manusia yang terikat. Kemudian berjalan (kalau mau dan bisa, berlari juga boleh) dari satu posisi start ke garis finishnya. Kelompok kami sudah menang mencapai garis finish, dan sudah bersorak-sorak kegirangan karena menang, eh ternyata harus balik lagi ke tempat semula dengan kaki tetap saling terikat. Sudah ada yang mendahului kami karena sempat "kegirangan" tadi, namun kami bisa menyusul bahkan mengalahkan kecepatan mereka dan mencapai garis finish yang sebenarnya lebih dulu. Ha ha ha.... Ibu instruktur yang sekaligus menjadi jurinya sampai terpingkal-pingkal. Kalau salah satu peserta diklat yang dari Merauke bilang, hati geli-geli... :D. Gak cuman badan saja yang kegelian, hatinya juga. Geli-geli.... ha ha ha...

Games sebelumnya adalah membangun menara dari sedotan. Games berkelompok juga. Kami ditugaskan untuk membangun sebuah menara setinggi dan sekokoh mungkin dari sedotan-sedotan. Dan hanya boleh menggunakan tangan kiri tanpa dibantu oleh anggota tubuh yang lain. Setelah diuji, menara kami paling tinggi meski bukan yang paling kokoh.... :D

Dan masih berkaitan dengan menara, kami ditugaskan juga membentuk sebuah menara dari tepung dengan cetakan gelas panjang. Kemudian koin Rp 1.000 ditaruh diatas menara tepungnya, kemudian menaranya kita kikis. Kikisan tepung yang paling banyak, dialah yang menang. Namun, menara tidak boleh roboh dan koin tidak boleh jatuh.... Kelompok kami menang juga, nomor 2... ha ha ha...

Ada rasa puas kita kita mampu melakukan sesuatu sesuai dengan aturan, namun bisa mencapai hasil yang maksimal.

Setelah diklat hari ini, senang juga ketemu sama teman sekelas waktu D III Khusus kemarin, Sultan. Kemudian diajak makan. Mie kering atau Mie Titi.... Masuk juga, meski sudah makan malam di asrama... ha ha ha

Makassar, Diklat Hari Ke-2. Integrity | Continuous Learning

3 comments:

Quinie said...

hihihi...senam. udah lama euy ga ikut senam bareng2

Seiri Hanako said...

seru euy diklatnya...

bandit™perantau said...

Mbak Qu: heheheh... senam itu katanya melatih keseimbangan tubuh... ha ha

Dr. Seiri: Diklat yg begini biasanya memang seru.... :D