Here I Am... Sorong..!

22 April 2013
Sebenarnya sudah 2 hari ini saya di Makassar untuk diklat, dan berhubung sinyal 3G nya agak bagus, saya posting-posting ceritalah sedikit...

15 April 2013, Pukul 17.20.... bandit tiba di Bandara Dominique Edward Osok, Sorong, Irian Jaya. Penerbangan yang agak lama cukup membuat kepala saya pusing juga. Batuk dan pilek yang saya "bawa" dari Jakarta hingga sekarang ( 1 minggu pas) tidak kunjung sembuh, walau sudah reda sedikit. 

Jakarta - Manado, Manado - Sorong. Berangkat jam 1.30 dini hari dari kosan di Bintaro. Naik penerbangan jam 5 pagi, karena lama berhenti di Manado (sesuai jadwal) baru tiba jam 5.15 sore di Sorong.  Ketika mau kuliah di Tangerang, pas keluar dari pesawat di Cengkareng, saya masih ingat berseru (dalam hati), Haleluyaaaaa, chance...!. Kali ini juga saya menyerukannya (dalam hati juga) tatkala keluar dari badan pesawat Wings Air yang membawa kami dari Manado ke Sorong. Menunggu sebentar untuk dijemput teman, Bang Manto Nainggolan, yang dikenalkan oleh teman juga lewat FB. Merasa bersyukur, Tuhan menyediakan Bang Manto yang mau menjemput ke bandara, setelah sebelumnya Tuhan menyediakan Bang Nelson yang mengenalkan kami, dan setelah sebelumnya Tuhan menyediakan Mark Z untuk menciptakan FB sebagai sarana perkenalan kami, setelah sebelumnya Tuhan menyediakan bapaknya Mark Z yang bla bla bla.... Hahahahah. Selalu ada dan tidak akan pernah habis memang alasan untuk kita selalu bersyukur atas keadaan kita sekarang...

Tiba di Sorong, mampir sebentar di kantor, berkenalan dengan senior-senior dan saya diputuskan untuk tinggal serumah dengan Pak Herman. Orangnya baik, kamar saya bagus, kondisi sejuk, situasi tidak bising karena agak masuk ke perkampungan, dan tidak ketinggalan air yang sedikit menuntut manajemen yang baik. Kadang mati kadang hidup, dan ibarat kematian, pasti datang namun entah kapan. Bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan menyediakan bla bla bla..... :D

Merantau itu indah kawan. Sebelum berangkat ke Sorong, ketika masih dikampung, saya dibekali banyak doa, nasihat dan saran-saran dari Bapak dan Ibu Gembala, Tulang Pendeta, Penatua, dan keluarga-keluarga yang lain.... Dan dengan semua itu saya tiba di Sorong. Merantau disini dengan rasa syukur karena Tuhan telah menciptakan Sorong, dan KPP Pratama Sorong...

Kendala yang saya hadapi saat awal-awal merantau di Sorong ini:
  1. Harga makanan "agak" mahal. Perbandingannya, makanan yang 10 ribu di Bintaro, sama dengan 14-15 ribu di Maumere, dan 25-28 ribu di Sorong. Haleluya.... Kondisi keuangan baru-baru merantau ini agak sedikit mengkhawatirkan... :D
  2. Transportasi. Kalau rute kantor - tempat tinggal, saya lebih suka menempuhnya dengan berjalan kaki. 15-20 menit. Sejak awal memang saya tidak berniat untuk membeli sepeda motor, sama seperti ketika di Maumere dulu, entah kenapa tapi memang tidak ingin. Mudah-mudahan keadaan tidak memaksa saya untuk membelinya. Urusan sarapan dan makan siang menjadi agak kerepotan, karena tempat makan agak jauh dari kantor. Bersyukur karena ada Lae Fronso yang sering membantu urusan transportasi ini.... God bless lae... :D
  3. Sinyal. Nah, ini sebenarnya sangat penting untuk saya (dan untuk sebagian besar orang sih). LDR Muenchen, Jerman - Sorong, Irian Jaya, Indonesia itu agak-agak membutuhkan sinyal 3G yang stabil supaya komunikasi via Skype lancar, (setidaknya sampai Desember ini)... Di kamar, sinyal 3G sebenarnya dapat, namun suka usil sinyalnya... Datang sebentar, eh ngilang lagi entah kemana. Akh, kudoakan kau sinyal 3G, lancarrr..... Ha ha ha <---kebayang akh....="" aneh-aneh...="" kan="" keanehan="" klo="" li="" saya="" sinyalnya="">
Namun yang pasti segala tantangan dan hambatan ada untuk membuat kita lebih baik. Bersikap lebih baik terhadap teman, orang lain dan situasi apapun. Semoga saya bijak dan berhikmat dalam bersikap.

Entah berapa lama saya bakal merantau di Sorong ini (mudah-mudahan tidak terlalu lama tapi sudah beberapa kali ke Raja Ampat, ha ha ha), entah bakal kemana setelah ini, BELIAU lah yang memegang kunci segala kehidupan. Doakan saya kawan, supaya saya sanggup menjaga kelakuan saya bersih dan supaya Sorong semakin membersihkan saya dari segala kenegatifan duniawi.... Beberapa hari ini saya kembali diingatkan BELIAU bahwa tujuan utama saya ke Papua bukanlah Raja Ampat, tapi untuk sesuatu hal negatif yang perlu dibereskan dari diri saya...

Buat anak-anak saya kelak, percayalah, Tuhan selalu menyediakan pelajaran terbaik untuk dipelajari, pengajar terbaik untuk mengajari, tempat terbaik untuk belajar, dan "sarana" terbaik untuk membantu kita memahami pelajaran itu... Jangan takut, Nak... Terimalah itu...!



3 comments:

joicehelena said...

yuhuu...semoga betah ya ito :)

Linda Leenk said...

kamu berapa lama di sorong?

bandit™perantau said...

Ito Joice: hehehehe, harus... :D

Linda: Bakal berapa lama maksudnya? Tidak tahu... heheheh, meski dalam hati ada harapan tertentu untuk jangka waktu berapa lamanya... :D