Api Cinta: Dari Kobaran Hingga Bara

06 December 2011

Sudah banyak tentunya postingan tentang cinta-cintaan di dunia maya ini. Pengibaratannyapun beragam, mulai dari api, air, tanah, udara (kok jadi Avatar???), anggur, dan masih banyak lagi. Tentunya dengan beragam penjelasan sudut pandang yang beragam...

Hampir seharian ini jalan-jalan sama si Ross, mengurusi salah satu keperluannya untuk mencapai cita-citanya. Sambil banyak ngobrol ngalor-ngalor ngidul-ngidul. Bercanda-canda lewat ucapan, mimik wajah dan tentang suara menyanyi menirukan Lagu Natal yang sedang dialunkan di Ramayana nya Blok M tadi sore. The First Noel...

Hingga dia sampai pada cerita tentang keripik Maicih yang pedasnya berlevel-level itu, beberapa hari sebelumnya dia beli dan makan di Bandung sama tantenya.
...
"Mau kamu makan keripik Maicih level 10 itu?" tawarnya
"Pedasnya level berapa?" tanyaku
"Level 10...!"
"Oh, kalau gitu cinta kita dah level berapa?"
"Level 10...!"
"Dari berapa level?"
"Dari 20...!"
"Nantilah kalau cinta kita dah level 20 baru kumakan itu keripik Maicih level 1o" *terdengar penjual menawarkan yang level 5...

Angkot 06, lanjut ke 71 hingga ke Blok M, kemudian naik TransJakarta ke Salemba UI setelah transit di Harmoni. Memilih naik Bajaj ketimbang angkot 04 menuju Balai Besar Laboratorium Kesehatan yang di Jalan Percetakan, kemudian ke RS Husni Thamrin buat rontgen dan balik lagi ke Balai Besar Laboratorium Kesehatan dan pulang dengan rute yang berlawanan dari perjalanan berangkat tadi. Setelah sempet salah naik bus tentunya... :D

Akh, dan tentunya disela-sela perjalanan itu banyak juga jalan kakinya, entah dijalanan (bagian pinggirnya), di gedung dan entah apa-apapun. Banyaklah obrolan mengalun, hingga obrolan tentang cinta berlevel-level tadi.

Cinta yang berlevel-level itu mengingatkan saya akan Api Cinta. Dari pedas ke panas, kemudian ke panas itu salah satunya api, dan dari situlah timbul di otakku timbul Api Cinta. Dan kukatakan padanya..

"Tau gak kenapa dibilang cinta itu kayak Api?"
"Gak.. Kenapa?"
"Karena ketika masih muda, cinta itu berkobar-kobar, setelah tua api cinta yang berkobar-kobar itu hilang, yang tertinggal adalah bara...!"

Dan dari situ, timbullah postingan ini.

Saya ingat dulu sewaktu kecil (ganteng-ganteng gini pernah kecil juga lo), ketika tugas saya sepulang dari sawah adalah memasak nasi, sayur, dan menggoreng ikan buat makan malam sekeluarga, saya jadi akrab dengan kayu bakar, api tungku dan sesekali tahi kucing yang dibenamkan kucingnya dalam sirabun (abu pembakaran).

Sebelum memasak, tentu saja saya harus menyalakan api tungku dulu, biasanya menggunakan korek api dan galak-galak (entah apa Bahasa Indonesianya, namun secara harfiah jadi nyala-nyala). Api awalnya mengecil, dan kemudian makin lama makin membesar membakar bagian-bagian kecil dari kayu bakar, lama kelamaan kayu bakarnya juga ikut terbakar seiring dengan membesarnya api, membakar kayu bakar-kayu bakar lainnya dan api makin membesar. Hudon (periuk) berisi air dan beras kemudian ditaruh diatas tungku berkaki empat dari besi. Sambil menunggu isinya mendidih dan menari-nari, saya kemudian mempersiapkan ikan asin untuk digoreng, kalau terkenal asin ikannya harus dicuci dulu dan kemudian ditiriskan airnya. Kadang harus juga menyiapkan sambal goreng demi penambah nikmat ikan asin itu. Lalu mencuci sayur kemudian mengiris-irisnya atau menumbuk kalau sayurnya daun singkong, ikkau rata) dan mempersiapkan segala sesuatu yang perlu untuk itu. Mangaradehon sude naporlu tusi....

Hudon berisi beras dan air tadi kemudian akan mendidih, airnya sejak awal sengaja saya banyakin karena purik (porridege) nya barang secangkir bakal menghuni perut saya. Tentunya setelah diaduk dengan sesendok gula pasir. Ini semacam susu bagi saya yang sampai saat itu jarang sekali minum susu... :D. Kemudian air didihan nasi yang sedang ditanak itu saya kurangi dan meninggalkan secukupnya sesuai insting untuk mengantarkan nasi setengah matang itu hingga matang nanti. Kemudian meminggirkannya disebelah api tungku, ini proses pematangannya perlahan-lahan.

Kemudian saya akan menaikkan belangan keatas tungku api dan menuang minyak goreng yang panas dalam waktu singkat. Menggoreng ikan-ikan asin yang sudah saya tiriskan tadi. Membaliknya sekali. Biar matangnya pas side A dan side B... Bergiliran, sekali goreng 4 atau 5 ekor sekaligus. Matang dan pindahkan ke pinggan. Lanjut menggoreng sambalnya yang sudah saya ulek sembari menanti kematangan ikan. Tak lupa memutar hudon berisi nasi tadi, supaya matangnya merata, tidak gosong sebelah, hancur sebelah.... :D

Lanjut dengan masak sayurnya. Gampang. Yang paling penting jangan lupa menambahkan garam atau jangan lupa kalau sebelumnya sudah menambahkan garam... Penting...!

Nah, itu semua, nasi, sayur, ikan, sambal memiliki kesamaan. Api menjadi penghubung mereka. Api yang membuat mereka jadi begitu, matang...!

Demikian juga cinta itu, Api Cinta itu yang kemudian melahirkan kebahagiaan, kesejahteraan, sukacita, dan kenikmatan. Matang...!


Pada saat memasak menggunakan kayu bakar seperti itu, sesekali saya harus memasukkan kayu bakar lebih ketengah, kepusat apinya, agar pusat apinya tetap terjaga dan fokus untuk masakan yang diatas hudon atau belanga.

Api Cinta juga seperti itu, kobarannya harus tetap dijaga untuk menjaga kebahagiaan, kesejahteraan, sukacita dan kenikmatan tadi tetap ada pada kehidupan percintaan kita.


Api bisa saja menjalar kemana-mana mengikuti kayu bakarnya. Dan menyalakan api ditempat lain dan tentunya akan mengurangi atau bahkan menghabiskan nyala api yang ditujukan untuk memasak tadi...

Api Cinta juga seperti itu, Api Cinta yang dimiliki bisa saja menjalar mengikuti mata yang tak lelah melirik wanita atau pria lain yang lebih dari wanita atau pria yang menjadi pasangan kita. Dan api cinta itu mungkin akan menyalakan kebahagiaan dan kawan-kawannya tadi ditempat lain, bersama yang lain. Dan tentunya itu akan mengurangi bahkan menghabiskan kebahagiaan dan kawan-kawannya tadi ditempat semula bersama pasangan semula.


Lama-kelamaan kayu bakar akan semakin habis, dan kami tidak perlu menambah lagi jika sudah selesai memasak. Paling ditambah barang sebatang dua batang untuk menambah kobaran api demi menghangatkan air untuk air mandi si Emak yang sebentar lagi bakal pulang dari sawah.

Api Cinta juga begitu. Untuk mempertahankan kobarannya diperlukan pengorbanan yang makin banyak. Waktu dan segala hal yang kita miliki. Adilnya, secara matematis adalah pengorbanan berbanding lurus dengan kobaran api cinta.


Si Emak dan kakak-kakak dah pulang dari sawah. Air hangat mandi buat Emak juga sudah siap. Sehabis si Emak mandi, kami sekeluarga akan berkumpul lesehan di dapur untuk makan. Nasi disendoki dan dibagikan dipiring-piring plastik atau logam. Doa dimulai, dan makan dimulai setelah doa diakhiri dengan amin. Masih ada bara api yang tertinggal, cukup bertahan lama untuk menghangatkan badan si Emak yang duduk dekat dengan tungku api.

Api Cinta juga begitu. Saat semuanya sudah dikorbankan untuk mempertahankan kobarannya, lihatlah yang tersisa adalah bara. Bara Cinta, cinta yang membara. Yang lebih panas dari kobarannya. Dia sanggup mempertahankan bahkan meningkatkan kebahagiaan dan kawan-kawannya tadi
.

Cinta yang membara itu lahir dari kobaran-kobaran cinta yang lama dan konstan. Menuntut banyak pengorbanan, dan banyak ini mengacu pada semua, bukan kepada jumlah...!


Cukup sekian postingan mengenai pemahaman anak kampung seperti saya tentang Kobaran Cinta dan Cinta yang Membara. Mungkin dikesempatan berikutnya saya akan berceloteh tentang cinta-cintaan yang ada hubungannya dengan jenis-jenis kayu bakar. Mudah-mudahan jadi...!

9 comments:

Senja said...

peng'andai'an Cinta yg luar biasa dengan nyala api.

selamat malam sobat, masih terus merantau ?

windaia208@gmail.com said...

keren bangg :D

Ninda Rahadi said...

halah
aku juga anak kampung bang hehe
wah akhirnya bisa mampir sini juga aku

Bandit Batak said...

Perumpamaan yang menarik lae..ceritamu yang mendetail mengenai proses memasak itu mengingatkanku sama masa kecil dulu :)..kita punya pengalaman yang sama kalau masalah itu..:)..

gmn kabar?uda lama gak saling sapa di blog

Mila Said said...

dari maicih sampe ke cinta sampe ke masak nasi & minum air tajin ternyata nyambung juga yah hahaha...

bella sirait said...

Wooow tema dan analogi yang antik...hebat idenya...

Pitshu said...

saya juga dr kampung, cuma ga suka main api, klo kebaran ribet hahahaha :)

bandit™perantau said...

Senja: masih terus Nneg... episode Tangerang... :)


Winda: hehehe


Ninda: :shakehand: hehehe


Bandit Batak: heheh, jarang ngeblog sejak mulai kuliah Lae... Mungkin ini dah mau ngeblog lagi... Doakanlah.... Kenangan masa kecil memang begitulah.... :D


Mila: Pernah dengar sih, segala sesuatu itu terhubung katanya... :D


Ito Bella: hehehe...


Pitshu: APi itu emang kayak cinta neng, gak boleh dimainin... hehehe

obat hepatitis said...

wah mantap