Petualangan 7 Curug: Epilog

09 October 2011
Bus yang membawa kami dari Baranangsiang menuju Kampung Rambutan belumlah setengah perjalanan. Mungkin. Suasana di dalam bis cukup gelap, hanya kelap-kelip yang timbul dari berganti-gantinya gambar di televisi yang menayangkan sinetron. Duduk dibagian tengah dari tempat duduk 3 seat membuat saya tidak bisa menikmati atau setidaknya melihat-lihat ada apa dikegelapan malam disebelah kaca mobil ini. Gordin nya juga menutup.

Bis melaju perlahan. Iya perlahan. Dan terasa lebih perlahan karena rasanya saya sudah ingin memeluk guling. Ngantuk. Tidur? Tidak. Setiap naik bis, saya sering dilanda kekhawatiran bahwa saya akan terpaksa turun setelah melewatu tujuan saya sebenarnya. Terutama jika naik bis sendirian tanpa teman yang dikenal, atau jika teman yang lain tidur.

Bis belumlah setengah perjalanan. Hingga saya memutuskan merenungkan perjalanan yang sudah saya lewati, perjalanan yang kami namakan "Petualangan 7 Curug" ini. Hal pertama yang timbul dipikiran saya adalah pelajaran.

"Adalah lebih baik tinggal dirumah dan mempelajari sesuatu daripada berpetualang atau bepergian kemana-mana namun tidak mempelajari apapun. Tentang apapun... "
Ya...
Terus terang banyak hal yang saya pelajari dari perjalanan kali ini...
  1. Tentang kekhawatiran, seringkali saya (atau mungkin Anda juga) merasa khawatir akan sesuatu yang akan terjadi padahal itu belum terjadi dan bahkan belum pasti terjadi. Tidur semalaman dipinggir jalan, di emperan toko cukup beralasan untuk khawatir tentang sesuatu. Janganlah dulu kriminalitas, misalnya saja kalau jatuh sakit gimana, kalau kalau gimana gimana.... And thanks God, I'm okay abundantly... :D
  2. Tentang bersyukur, setiap melakukan perjalanan pasti kita akan menemukan hal-hal berbeda, hal-hal yang tidak pernah ada dipikiran kita, orang-orang yang belum pernah kita temui, tanaman atau pepohonan yang jarang atau bahkan belum pernah kita lihat, atau makhluk-makhluk lain atau bahkan melihat makanan yang belum pernah kita tahu. Mendengar suara-suara yang jarang atau bahkan tidak pernah kita dengar sebelumnya seperti deru air terjun, suara angin yang beradu dengan pepohonan, logat-logat, kata-kata dan bahasa-bahasa penduduk yang berbeda. Melakukan hal-hal yang berbeda, seperti mandi di air terjun, tidur di emperan toko, berjalan kaki berkilo-kilo. Dan adalah alasan yang bagus untuk bersyukur bisa melihat itu semua, bisa mendengar bahkan bisa melakukan hal-hal itu. Meskipun seringnya saya tidak pernah mencari-cari alasan untuk bersyukur, tapi melihat sesuatu yang berbeda, bukankah semestinya kita harus bersyukur. Sesekali jika melakukan perjalanan, jangan terlalu fokus pada tempat tujuan yang akan kita capai. Tempat tujuan yang akan kita capai tetap saja akan begitu, setidaknya hanya sedikit perubahan untuk tahunan ke depan. Sedangkan suasana perjalanan, lebih pasti dan lebih sering berubah... :)
  3. Tentang cinta. Saya jadi tahu saya lebih mencintai kekasih saya lebih dari yang saya tahu. Seringkali, ketika mencapai sebuah tempat tujuan, atau melihat sesuatu yang berbeda, tanpa sadar saya langsung membuka hape dan dengan sadar mengesemeseskan kata-kata cinta buat dia, meski kesannya lebih mengarah ke gombalisasi. "Hasian, derasnya air terjun Curug Naga ini tidak sanggup lho menyaingi derasnya cintaku padamu...!" :D or something like, "Hasian, kamu tahu gak kekurangan dari air terjun yang indah ini?| Apa..? | Kurang kamu..." Dan sejenis-sejenis yang sekawan dengan itu... Semoga nangka-nangka di Kawasan Curug Nangka berbuah dengan mesra saat saya mengajak dia kesana, suatu saat.
Pelajaran yang berikut, lebih bersifat rohani....
Yang paling penting, terus terang saya bukan orang yang rohani-rohani amat, dan saya bukan seorang rohaniawan atau tokoh agama, bukan. Saya hanya seorang manusia dekil yang dulu waktu kecil sering melukai tubuhnya karena tidak tahu cara memasang ritsleting dengan benar. Tolong jangan dibayangkan bagian tubuh mana yang luka... *lho kok malah dibayangkan?. Padahal tadi maksud saya ritsleting tas sekolah lho. Akh..... :D

Dan saya juga bukan orang yang menghabiskan waktunya lebih banyak belajar tentang keTuhanan. Tapi lewat setiap hal yang terjadi dalam kehidupan saya, besar maupun kecil, saya berusaha belajar merasakan kehadiran Beliau. Dan ini pelajaran paling penting bagi saya dari perjalanan kali ini, tentang Sang Pencipta. Ada banyak kejadian-kejadian yang membuat saya makin mengenal Dia.

Saat melihat sebuah lukisan, kita mungkin bertanya siapa pelukisnya. Tentang buku kita bertanya siapa penulisnya. Dan tentang alam (air terjun, awan, gunung, laut, dan sebagainya) kita bertanya Siapa Penciptanya. Setidaknya saya seperti itu. Tak jarang ucapan syukur melontar dari mulut saya ketika melihat air terjun, ciptaan yang indah. Ucapan syukur kepada Sang Pencipta, ucapan syukur dan kekaguman atas ciptaan itu. Ucapan syukur bahwa yang menciptakan itu semua juga adalah yang menciptakan saya. :)

Di suatu kesempatan saya teringat ungkapan-ungkapan rohani yang berkata: "Tuhan, lebih suka menjawab doa kita dengan apa yang kita butuhkan, bukan dengan apa yang kita inginkan..." Ya, itu benar, dan bagi saya benar jika dialamatkan kepada seseorang yang pergumulan hidupnya mendapatkan jawaban yang berbeda dari hal yang diinginkannya. Namun bagi saya, jika dengan memenuhi keinginan kita, kita bahkan jadi jauh lebih mengenal dan hidup lebih dekat dengan Tuhan, kenapa tidak?

Petualangan dan perjalanan bagi saya bukanlah sebuah kebutuhan. Lebih kedapa sebuah keinginan. Tanpa petualanganpun saya masih akan tetap bersyukur atas hidup saya. Tanpa petualanganpun saya masih hidup seperti biasa. Tapi petualangan membuat saya semakin mengerti betapa DIA hadir dalam hidup saya. Lewat-hal-hal kecil sekalipun kita bisa mendapatkan pelajaran tentang hidup sekaligus menyadari bahwa sebenarnya ada sesuatu di balik semua itu. Bukan kebetulan setiap menghadapi persimpangan jalan, tidak ada plang penunjuk jalan, dan kami tidak tahu mana arah yang benar menuju air terjun, ada-ada saja orang atau seseorang yang bisa kami mintai petunjuk. Bukan kebetulan bapak penanggung jawab di Kawasan Wisata Curug Naga itu mau mengantarkan kami berdua ke Curug Cilember. Bukan suatu kebetulan kami kehujanan dan bertemu dengan rombongan dari salah satu GBI dari Jakarta Barat. Bukan suatu kebetulan setelah kehujanan, malam-malam, turun dari Curug Cilember dan kami berencana untuk tidur dipenginapan, ada satu kakek-kakek penjaga villa yang menawarkan villanya untuk kami tempati untuk malam itu. You may think that's just a coincidence(s), but I believe in God, not in coincidences.

Di kesempatan lain, ketika kami berlelah-lelah menaiki bukit di Kawasan Wisata Curug Cilember, keringat mengucur dan kami terus melangkah. Melihat saya berhenti melepas lelah sebentar, teman saya Rendra berujar: "Ini belum bawa salib lho...!". Saya tertegun dalam hati mendengar kalimat itu, "Kami ini menaiki bukit membawa ransel demi sesuatu yang indah diatas sana. Untuk kami sendiri. Air terjun. DIA, yang menaiki Bukit Golgota, memikul salib demi sesuatu yang menyiksa diatas sana. Kematian. Demi siapa..?!" It's really mean something good he said something like that...

Lewat perjalanan hidup saya, lewat segala hal yang terjadi dalam hidup saya, besar atau kecil, saat itu juga atau kemudian, cepat atau lambat, saya selalu merasakan DIA ada. Segala hal disekitar saya menceritakan tentang DIA, termasuk masalah-masalah dalam kehidupan saya...


4 comments:

LaDy said...

wahhhh..senangnya jalan2..:)
perasaan kerjaannya jalan2 mulu dehh... ;)

bandit™perantau said...

Daripada jalan2nya yang dikerjain mending kerjaannya yang jalan2.. hehehe

obat tradisional hepatitis a said...

info yg menarik

Obat Herbal Stroke said...

mantap